Kutak (Kotak)
KOTAK
(1) Para parbeɲci ‘ŋ’ŋutakken diri nda sandiri, taʔ sadar siida tetep dah uraŋ, daʔ iaŋ ‘mbuat siida baiʔan apa burukan mai iaŋ lahin sisih kakapakayan da ka ranah dan uraŋ lahin iaŋ tarbiaw. (2) Barjuyaŋ tu urusan m’masiŋ, tahu! (3) Deŋan barjuyaŋ, itu haɲa untuk kau sandiri handar, namun ka ranah eŋkau lagaw. (4) Sempet ‘naɲa kau ' sasa parbeɲci, siapa tuhaan kau? siapa juɲjuŋan kau? siapa tuhay kau? apa turutan kau? di mana hala kau? siapa sadara kau? maka sahut dah salembut dan satenti, "aku taʔ ada tuhaan, haɲa Hiyaŋ dah iaŋ aku ada, s'siapa uraŋ cerdik pinter cerdas dan baiʔ dah juɲjuŋan ku, aku sandiri dah tuhay ku, saɲayaŋ dah turutan ku, aku taʔ barhala ka m’mana pun, lantar aku bukan paɲembah tempat, saada baŋet dah sadara ku, tahu!" (5) Baheru dah siida tarsentak dan sadar sempet salama ni siida elah nipenuhi deŋan geɲar beɲci, ciciʔ, dan deŋki iaŋ maŋagaw.
(1) Para pebenci mengkotak-kotakkan diri mereka sendiri, tidak sadar (bahwa) mereka tetaplah manusia, tidak ada yang membuat mereka lebih baik atau lebih buruk dari yang lain kecuali kebermanfaatan mereka pada dunia dan orang lain yang terbiau (menghiasi). (2) Beribadah adalah urusan masih-masing, tahu! (3) Dengan beribadah, itu hanya untuk dirimu sendiri saja, namun kepada dunia engkau lagau (tidak berguna). (4) Jika seorang/beberapa pebenci menanyaimu, siapa Tuhanmu? siapa junjunganmu? siapa pemimpinmu? apa agamamu? di mana kiblatmu? siapa saudaramu? maka sautlah dengan lembut dan yakin, "aku tidak punya Tuhan, hanya Hyanglah yang aku punya, siapapun orang cerdik, pintar, cerdas, dan baik adalah junjunganku, aku sendirilah pemimpinku, Senyayanglah agamaku, aku tidak berkiblat ke mana-manapun, karena aku bukan peyembah tempat, semua makhluklah saudaraku, tahu!" (5) Barulah mereka tersentak dan sadar bahwa selama ini mereka telah dipenuhi dengan rasa benci, cicik, dan dengki yang mengagau (yang dimasukkan ke tekak/tenggorokan).
