Yang Tergolong Najis dalam Agama Senyayang
Selain mengutamakan rasa kasih sayang, agama sanyayang juga mengutamakan kebersihan seperti yang terdapat dalam Jeluray pada surat Mati ayat 5-6:
(5) Ti ada paɲeselan di hati mu, lantar kamu elah ‘ŋikut ajaran saŋ Hiyaŋ, buat rapay parresih dan paɲayaŋ. (6) Sakelep tu, ‘sihan dah u’uraŋ iaŋ salama hidup da taʔ rapay parresih dan paɲayaŋ. (Mati: 5-6).
Salah satu standar kebersihan dalam agama senyayang adalah bebas dari najis, terutama ketika melakukan sembahyang. Manusia tentu saja boleh menyentuh atau berinteraksi dengan najis, namun setelah itu harus dibersihkan dan membersihkan diri. Cara membersihkan najis disesuaikan dengan rekomendasi para dokter yang berdasarkan sains.
Dalam artikel ini, kami akan membagikan apa saja yang dianggap najis dalam agama sanyayang.
1. Zat yang mengandung kuman
Semua zat yang membawa banyak kuman adalah najis. Beberapa contoh zat ini adalah tahi, tanah lembap, dan sebagainya. Setelah beinteraksi dengan najis ini, hendaklah membersihkan diri seperti dengan alkohol, sabun, air, dan sebagainya.
2. Zat kimia buatan maupun alami yang berbahaya apabila disentuh
Semua zat kimia baik yang buatan maupun alami (misalnya ekstrak tanaman beracun, bagian tanaman yang beracun) yang berbahaya adalah najis dalam agama senyayang. Maka, setelah berinteraksi dengan zat-zat ini, hendaklah membersihkan diri sesuai dengan protokol yang tersedia.
Apakah Alkohol Najis?
Alkohol dan zat kimia lain yang tidak membahayakan ketika disentuh bukan najis dalam agama senyayang.
Apakah binatang Najis?
Darah dan cairan lain yang keluar dari tubuh binatang (kecuali air susu dan sperma yang steril) adalah najis sehingga harus dibersihkan setelah bersentuhan dengannya.
Dalam pesayang, seseorang boleh memelihara binatang yang cukup aktif mengeluarkan liur seperti anjing, selagi si pemilik mampu menjaga kebersihannya. Namun, di saat akan melakukan sembahyang, harus dipastikan tidak ada air liur anjing yang mencemari, baik di tempat, pakaian, maupun tubuh. Maka, hendaklah membersihkan semuanya itu sebelum melakukan sembahyang.
Apa itu air susu dan sperma steril?
Air susu steril adalah air susu yang keluar dari puting susu mamalia atau saluran sejenisnya yang langsung dikonsumsi oleh bayi atau diambil dan disimpan dengan baik sehingga tidak terkontaminasi oleh lebih banyak kuman. Jadi, donor ASI dalam agama sanyayang tidak haram.
Sperma steril adalah sperma yang dikeluarkan dari alat kelamin binatang (termasuk manusia) jantan yang langsung masuk ke dalam tubuh manusia atau binatang lainnya, atau diambil dan disimpan dengan baik di luar tubuh sehingga tidak terkontaminasi oleh kuman. Karena dalam agama senyayang sperma steril bukanlah najis, maka, donor sperma atau bank sperma tidaklah haram.
Apakah cairan kelamin manusia najis?
Liur dan cairan kelamin manusia bukan najis pada saat melakukan aktivitas seksual. Cairan liur dan cairan kelamin yang sudah masuk ke dalam tubuh seseorang saat melakukan aktivitas seksual juga bukan najis. Namun, setelah selesai melakukan aktivitas seksual, semua cairan-cairan, baik itu cairan kelamin maupun cairan liur yang ada di luar tubuh adalah najis dan harus dibersihkan. Maka, senyayang menganjurkan untuk mandi, menyikat gigi, memakai obat kumur, dan sebagainya setelah melakukan aktivitas seksual. Semua cairan-cairan di luar tubuh yang tersisa harus dibersihkan. Bila perlu, pelaku hubungan seksual mengonsumsi pil pRep sebelumnya atau sesudahnya untuk mencegah penularan HIV.
Di luar konteks hubungan seksual, misalnya ceceran air liur atau sperma di suatu tempat, maka itu adalah najis dan harus dibersihkan.
Apakah ada najis ringan, sedang, dan berat dalam sanyayang?
Tidak ada. Semua najis dalam agama senyayang memilki status yang sama. Mereka harus dibersihkan dengan cara-cara yang sesuai dengan sains.
Apakah seorang pesayang harus selalu bebas dari Najis?
Tidak. Namun, alangkah baiknya jika pesayang memang selalu bersih dari najis karena hal itu bermanfaat bagi kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tidak dapat terlepas dari najis. Yang penting adalah najis itu dibersihkan setelah adanya kontak. Beberapa pekerjaan pun menuntut pekerja untuk bersentuhan dengan najis. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium yang meneliti darah, maka hal tersebut tidak apa-apa. Namun, hendaklah setelah selesai melakukan pekerjaannya tersebut, si pesayang membersihkan diri.
Contoh lagi orang yang memelihara anjing, tidak masalah jika liur anjing mencemari lingkungan rumah, selagi dibersihkan secara rutin.
Kewajiban untuk bebas dari najis hanyalah saat melakukan sembahyang, baik itu sembahyang sandiem (sendiam) maupun sampindah (sempindah).
Bagaimana cara membersihkan najis dalam sanyayang?
Setiap najis dibersihkan sesuai protokol dan standar yang ditetapkan oleh sains atau ilmu-ilmu lain yang berkaitan.
Bagaimana dengan tahi dan cairan di dalam tubuh?
Jika tahi, darah, air kencing, dan sebagainya masih ada di dalam tubuh manusia, maka itu bukan najis bagi tubuh manusia tersebut. Setelah mereka keluar, barulah itu menjadi najis.
