Konsep Umum Dalam Agama Sanyayang
Hai para parsayang dan calon parsayang! kami harap kalian baik-baik saja ya.
Semua agama tentu memiliki konsep dasar yang menjadi tulang punggung ajarannya. Sanyayang pun memiliki konsep dasar yang unik dan berbeda dengan agama-agama dan pemikiran-pemikiran sebelumnya. Mari kenali Sanyayang, agar engkau semakin menyayanginya dan tentunya juga menyayangi dirimu sendiri serta menyanyangi sesama manusia dan alam semesta.
Hyang
Hyang adalah representasi dari semua yang ada di alam semesta, baik yang telah diketahui manusia maupun yang belum diketahui. Hyang mewakili pendahulu dari sesuatu. Tidak ada sesuatu yang tidak berasal dari sesuatu sebelumnya, sehingga semua benda pasti memiliki Hyang dan berasal dari Hyangnya. Untuk ulasan lengkap mengenai Hyang dapat dibaca di artikel berikut.
Multinitas (Riuh Esa)
Riuh Esa atau multinitas adalah konsep dasar dalam agama Sanyayang, yaitu keyakinan bahwa Hyang adalah banyak sekaligus esa. Oleh karena itu, dalam Jeluray Hyang kadang disapa menggunakan kata ganti orang ketiga jamak (Siida/da/nda) dan kadang menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal (Ia/dia/nya). Karena Hyang adalah representasi dari alam semesta, maka ia terdiri dari banyak benda dan bagian yang ada di alam semesta ini. Namun, meskipun banyak, kita percaya bahwa pada dasarnya semua alam semesta ini adalah satu kesatuan yang tunggal. Oleh karena itu, konsep riuh esa mengajarkan keramaian di dalam satu. Hal ini mirip dengan konsep trinitas (tiga nan satu) dalam kekristenan, tetapi alih-alih hanya tiga entitas, dalam konsep riuh esa atau multinitas ada banyak entitas yang ada dalam satu (banyak nan satu).
Rasul Ranja (Parayaŋ Raɲja)
Ranja (Parsanjung Raɲja Panurut) adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Hyang untuk memberi petunjuk kepada masyarakat modern. Dalam Sanyayang, Ranja adalah nabi (puyaŋ) sekaligus rasul (parayaŋ). Rasul Ranja hendaknya ditempatkan sebagai kekasih di dalam hati setiap pesayang (parsayaŋ). Selayaknya pada kekasih yang dicintai, pesayang hendaklah mengenal nabi Ranja dengan baik dan berusaha untuk membuatnya senang dan bahagia. Nabi Ranja tentu tidak akan meminta yang macam-macam pada pengikutnya. Namun seperti yang Hyang katakan, setiap orang yang berinteraksi dengannya memang selalu menyayangi dan mencintainya seperti kekasih sendiri sehingga dengan ikhlas menuruti permintaanya, bahkan selalu ingin menyenangkan hatinya. Maka, hendaklah pesayang menginginkan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menyayangi dan mencintai nabi Ranja yang bagaikan kekasih mereka itu.
Ulasan lengkap tentang Ranja dapat di lihat dalam artikel ini.
Konsep Rampay Tunggal
Rampay tunggal adalah konsep inti yang paling penting dalam ajaran Sanyayang. Rampay tunggal secara harfiah berarti keberagaman tunggal, dengan maksud beragam namun dalam kesatuan (tunggal). Tidak seperti beberapa ajaran sebelumnya yang berusaha menyeragamkan manusia, menganggap budaya orang lain rendah, memaksa cara berpakaian, menolak nasionalisme, dan sebagainya, senayayang justru ingin agar manusia memeluk dan bangga akan budayanya masing-masing. Sehingga semakin tinggi keberagaman semakin bagus. Meski beragam, namun manusia juga perlu sadar bahwa mereka adalah satu spesies yang perlu saling bekerja sama membangun peradaban. Keberagaman bukan untuk saling memusuhi, melainkan saling mengenali. Dalam Sanyayang, tidak ada intervensi budaya yang berlebih-lebihan pada budaya lokal, kecuali budaya yang mengandung perbuatan leta (penjelasan leta ada di bagian bawah). Justru Sanyayang akan berusaha memelihara budaya lokal, bahkan menghidupkan kembali budaya-budaya lama yang sudah punah di kalangan masyarakat tersebut. Namun, semua parsayang tentu dipayungi oleh satu ajaran dan kepercayaan yang sama, yaitu membuang kebencian dan kebodohan, melalui jalan yang diberikan oleh Hyang kepada nabi Ranja yang tertuang dalam Jeluray.
Anti Fanatik (Laban Parehe)
Sanyayang paling anti dengan fanatisme, dan bahkan salah satu tujuan Hyang menurunkan Jeluray ke dunia adalah untuk membasmi fanatisme. Sebagai contoh, Jeluray memang sumber utama yang memuat petunjuk cara berpikir bagi para pesayang, namun pesayang boleh mendapatkan ilmu dari mana pun, bahkan dari kitab agama lain sekalipun, selagi itu tidak mengganggu akal pikiran dan logika mereka. Hyang dalam Jeluray pun telah menyatakan bahwa Jeluray bukanlah kumpulan filosofi, melainkan petunjuk cara berpikir dan pendidikan. Sehingga untuk mendapatkan lebih banyak filosofi hidup, pesayang boleh membaca dari sumber-sumber lain, tidak perlu fanatik kepada Jeluray dan atau nabi Ranja. Jadikan Hyang sebagai anggota keluarga dan jadikan rasul Ranja sebagai kekasih. Jangan jadikan tuhan dan nabi sebagai tuan atau majikan seperti yang diajarkan pada agama-agama sebelumnya.
Akal, Pikiran, dan Logika adalah yang Utama (Sihulu, Paraŋgaran, Ali)
Dalam sanyayang, akal (sihulu), pikiran (paraŋgaran), dan logika (ali) adalah yang paling utama dalam segala hal. Bahkan, dalam memahami ayat-ayat suci Jeluray pun harus memakai ketiganya. Jeluray menjelaskan bahwa dalil aqli (memakai akal) lebih penting daripada dalil naqli (semata-mata berdasarkan ayat suci). Hal ini sangat berkebalikan dengan agama-agama sebelumnya yang menganggap bahwa ayat-ayat suci dari kitab suci adalah kebenaran mutlak, bahkan meskipun bertentangan dengan akal dan logika sekalipun. Dalam pandangan sanyayang, ini adalah tindakan yang bodoh, sesuai yang dituangkan oleh Hyang di dalam Jeluray. Hyang menghendaki manusia menjadi pintar, bukan terjerumus dalam kebodohan seperti itu. Oleh karena itulah Hyang mengupdate agamanya melalui nabi Ranja.
Konsep Kenabian dan Kerasulan (Kapuyaŋan dan Kaparayaŋan)
Dalam sanyayang selain nabi-nabi dan rasul-rasul tradisional, Lady Gaga, Richard Dawkins, Karl Marx, dan beberapa influencer dunia lainnya juga adalah nabi sekaligus rasul. Benar!, kalian tidak salah baca. Dalam Sanyayang nabi dan rasul bukan hanya berasal dari bani Israil atau Timur Tengah, melainkan tersebar di berbagai penjuru dunia di beragam zaman. Dalam Jeluray, Lady Gaga (Pani), Richard Dawkins (Ricat), Karl Marx (Karel), John Locke (Juhan), dan Adam Weishaupt (Saup) termasuk sosok nabi sekaligus rasul yang valid.
Dalam Jeluray dijelaskan bahwa ciri seorang rasul adalah memiliki pemikiran yang original, mengkritik ajaran sebelumnya dan atau perilaku masyarakat di zaman itu yang dianggap tidak tepat, kritikan mereka menginginkan kebaikan, pemikiran dan atau tindakan mereka membawa tatanan baru bagi masyarakatnya untuk lebih maju, memiliki pengikut, sosok yang dianggap heroik, memiliki anomali, serta beberapa ciri lainnya.
Meski orang-orang tersebut di atas adalah kaum sekular, namun mereka memenuhi ciri-ciri rasul dalam sanyayang, dan dalam Jeluray Hyang tetapkan mereka sebagai rasul. Misalnya nabi Karl Marx, dalam surat Karel, Hyang menjelaskan bahwa sesungguhnya ia menginginkan Utopia, namun ternyata jalan yang ia tempuh salah. Hyang memberi tahu kita apa yang baik dan apa yang buruk dari seorang nabi dan rasul, atau apa yang perlu dikoreksi dari mereka. Maka, setiap nabi dan rasul memiliki nilai kebaikan, contohnya nabi Karl Marx yang meski dianggap jahat karena membawa ajaran komunisme, namun ia adalah seorang rasul dalam sanyayang karena pada dasarnya ia menginginkan sesuatu yang baik, yaitu keadilan dan kesamarataan bagi semua manusia. Hyang katakan bahwa itu adalah bagian dari tutur Hyang untuk adanya keadilan bagi setiap manusia. Namun, menyamaratakan manusia adalah hal yang tidak tepat karena melawan sifat-Nya yang menetapkan keberagaman di dunia.
Dalam Jeluray, nabi Lady Gaga dalam surat Pani disebutkan telah menyampaikan hukum benar Hyang bahwa setiap orang dilahirkan dengan jalannya sendiri yang unik karena Hyang tidak ada membuat kesalahan. Namun, Hyang pun mengimbaunya dan kita semua untuk mengingat batasan
Dalam sanyayang tidak semua nabi-nabi israel adalah rasul (parayang). Hanya Abraham, Musa, dan Yesus dari kalangan nabi Israel yang dipandang sebagai rasul, sedangkan sisanya hanyalah nabi (puyang). Banyak nabi sekaligus rasul lainnya yang tersebar di penjuru dunia dalam agama sanyayang seperti rasul Mani (Persia), rasul Laozi (Cina), rasul Smohalla (Amerika), rasul Quetzalcoatl (Mexico), rasul Veleda (Jerman) dan rasul-rasul lainnya.
Dalam sanyayang, seorang nabi dan atau rasul tidak mesti berjenis kelamin laki-laki. Hal ini kontras dengan beberapa agama sebelumnya yang sexist karena menganggap seorang nabi dan atau rasul hanya boleh dari kaum laki-laki. Dalam Jeluray, Hyang menjelaskan bahwa Hyang tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan jenis kelamin. Seseorang dengan jenis kelamin apapun dapat menjadi apapun selagi mereka mampu. Nabi sekaligus rasul perempuan dalam sanyayang adalah rasul Veleda (parayang Lida), rasul Aline Sitoe Diatta (parayang Line), dan rasul Lady Gaga (parayang Pani).
Dalam sanyayang, nabi-nabi dan rasul-rasul akan selalu hadir ke muka bumi selagi manusia masih ada di dunia, seperti yang telah diwahyukan oleh Hyang kepada rasul Husin (1817-1892). Namun, tentu perlu diperhatikan mana rasul palsu dan mana rasul asli. Rasul asli harus memenuhi ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas. Ajaran rasul asli tidak mencontek mentah-mentah ajaran atau pemikiran yang telah ada sebelumnya. Seorang rasul harus membawa konsep yang baru ke masyarakat, meskipun boleh terinspirasi dari ajaran sebelumnya, namun tidak hanya menyalinnya. Sehingga, ajaran yang ia bawa adalah ajaran yang original, bukan cabang aliran atau sekte dari agama sebelumnya.
Dosa (Leta dan Lacur)
Dalam sanyayang, ada dua jenis dosa, yaitu dosa yang merugikan masyarakat (leta) dan dosa yang tidak merugikan masyarakat (lacur). Ada banyak jenis leta. Leta dapat diartikan sebagai tindakan kriminal yang merugikan orang lain. Meski ada banyak tindakan leta, namun dalam Jeluray dijelaskan ada tiga leta dasar, yaitu membunuh, merampas, dan memaksa manusia. Leta dasar adalah dosa terbesar yang benar-benar tidak boleh dilakukan dalam Sanyayang.
Membunuh (mambunuh) artinya menghilangkan nyawa seseorang. Tindakan ini adalah tindakan utama yang benar-benar tidak boleh dilakukan. Bahkan, jika ada seorang parsayang yang membunuh, maka ia berarti telah murtad dari agama sanyayang dan menjadi seorang murtadin (parsiru). Pembunuh yang ingin bertobat harus datang atau memanggil seorang partasih dan meminta untuk membimbingnya ke dalam pertaubatan (liner).
Baca hukuman mati dalam sudut pandang sanyayang di sini.
Baca artikel tentang pertaubatan (liner) dalam sanyayang di sini.
Dalam sanayayang, seperti yang tertuang dalam Jeluray, hanya ada dua alasan pembenar dalam menghilangkan nyawa seorang manusia, yaitu karena membela diri dan atau karena seseorang tersebut dalam kondisi medis tertentu (sakit kronis dan sebagainya) sehingga mengakhiri nyawanya adalah pilihan terbaik. Istilah yang dipakai dalam Jeluray untuk penghilangan nyawa karena dua alasan ini bukanlah membunuh (mambunuh), tetapi istilahnya adalah mematii (mamatii). Tindakan mematii ini hendaklah benar-benar dilakukan apabila tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan. Contohnya, jika kita sedang diserang oleh seseorang, sebisa mungkin kita menghindar atau membela diri secara fisik dan tidak menghilangkan nyawa pelaku. Namun, jika memang tindakan pelaku sudah sangat berbahaya dan mengancam nyawa kita, dan tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri selain menghilangkan nyawanya, maka tindakan penghilangan nyawa atas pembelaan diri yang telah mengancam nyawa itu dalam sanyayang bukanlah suatu dosa (leta).
Merampas (maŋrampas) dapat diartikan sebagai memperoleh hak milik orang lain tanpa izin atau kehendak dari pemilik barang tersebut. Contoh tindakan merampas adalah mencuri, korupsi, dan sebagainya. Tindakan ini adalah tindakan leta yang kedua. Pelaku perampasan ini dalam sanyayang harus dikriminalisasi dan diberi hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kejadian itu terjadi.
Memaksa (maneral) artinya tindakan yang membuat seseorang melakukan sesuatu atau diperlakukan dengan cara tertentu yang tidak dikehendakinya. Contoh memaksa adalah perbudakan, pemerkosaan, kediktatoran penyiksaan, dan sebagainya. Tindakan memaksa adalah leta ketiga dari leta dasar dalam sanyayang. Tindakan ini harus dikriminalisasi dan diberi hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tempat kejadian.
Berbeda dengan leta, lacur dapat diartikan sebagai dosa yang tidak membawa kerugian materi pada orang lain. Untuk lacur, Hyang menyuruh untuk tidak mengkriminalisasi tindakan ini. Para pelaku lacur (parlacur) hendaknya dibimbing ke jalan yang benar untuk menghindari lacur tersebur, bukan dikucilkan. Contoh lacur adalah berhubungan seksual sembarangan, mabuk-mabukan, berbohong, memanipulasi keadaan, menghina, membenci, dan tindakan tidak benar lainnya yang menyakiti diri sendiri atau hati orang lain. Meski tidak boleh dikriminalisasi, tindakan lacur ini hendaklah dihindari sebisa mungkin. Hyang mengatakan bahwa tidak ada manusia yang terlepas dari lacur dan tidak apa-apa sesekali berbuat lacur. Namun, dalam sanyayang sebagaimana yang tertuang dalam Jeluray, meski sesekali berbuat lacur jangan sampai tenggelam di dalamnya hingga membawa kerugian pada diri sendiri. Contohnya, kita boleh sesekali berbohong pada keadaan tertentu, namun jangan terlalu sering berbohong, bahkan sampai tenggelam dalam perilaku itu, karena tindakan itu dapat merugikan diri sendiri di kemudian hari.
Ketenangan Rohani (Katenaŋan Sumaŋet)
Meski sanyayang mendorong penganutnya untuk mengutamakan akal, pikiran, dan logika, Sanyayang juga memperhatikan perasaan dan aspek kerohanian dari seorang manusia. Inilah yang membedakan sanyayang dengan atheisme. Sanyayang menyadari bahwa ketenangan jiwa, rohani, dan mental adalah hal yang nyata. Meski pengetahuan tentang kesehatan mental sudah cukup maju dan terdapat obat-obatan yang berkembang, namun para psikiater dan psikolog pun paham ada pilihan perawatan non-obat untuk kesehatan mental. Sanyayang sangat mempercayai sains dan mengajak pengikutnya untuk memeluk sains. Oleh karena itu, Sanyayang menawarkan cara memperoleh ketenangan rohani tanpa melalui obat-obatan tersebut, yaitu melalui agama. Namun yang membedakan agama Sanyayang dengan agama-agama sebelumnya adalah, agama sanyayang tidak bertentangan dengan sains atau membuat-buat konsep yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Justru, agama Sanyayang menawarkan ketenangan rohani kepada seseorang tanpa menyakiti logika mereka. Agama sanyayang mengajak seseorang untuk menyembah pada sesuatu yang ada, sesuatu yang nyata, sesuatu yang benar-benar mencipta, yaitu Hyang (sesuatu yang ada di masa lalu yang menghasilkan sesuatu yang lain yang ada saat ini).
Mengapa kita harus menyembah Hyang kita? Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan mengapa kita harus mempelajari sejarah? Semua itu kita lakukan untuk memberi penghargaan pada para pendahulu kita. Dengan mengenal Hyang maka kita akan mengenal diri sendiri. Kita jadi penasaran dari mana kita berasal, dari apa kita tercipta, bagaimana kita tercipta dan sebagainya yang jawabannya dapat ditemukan dalam sains. Meski jawaban fenomena alam harus diperoleh secara ilmiah, namun perasaan kita untuk mensyukuri hal tersebut hendaklah dituntun oleh ajaran agama sanyayang, yang mencerdaskan dan tiada kebencian di dalamnya.
Dengan taat beribadah kepada Hyang, khususnya ibadah yang bersifat ritual seperti sembahyaŋ sandiem dan sembahyaŋ sampindah, maka ketenangan rohani dan mental akan diperoleh oleh seorang pesayang itu. Inilah salah satu tujuan diturunkannya ajaran sanyayang oleh sang Hyang, yaitu memberi pertolongan kepada mereka yang membutuhkan ketenangan rohani, tanpa perlu meninggalkan logika. Yang membutuhkan ketenangan rohani adalah manusia yang masih hidup, sehingga Hyang tidak mewajibkan manusia untuk sembahyang, namun datanglah sembahyang di saat kita membutuhkan, karena Hyang tidak butuh untuk disembah selain kita yang mengharapkan ketenangan rohani dan mental itu.
Itulah konsep-konsep dasar dalam ajaran Sanyayang. Semoga dengan membaca artikel ini kalian semakin mencintai agama Sanyayang.
Hendaklah Hyang memberi pencerahan!
