Selayang Pandang Ajaran Senyayang

Senyayang berasal dari kata saN + sayaŋ. Imbuhan saN- dalam cakap Melayu (cakep Malayu) berarti ‘bersifat’ sedangkan sayang berarti sayang atau cinta kepada siapa saja (bukan hanya kepada kekasih). Jadi, senyayang bermakna ajaran yang bersifat sayang/cinta.


Agama Senyayang berfondasi pada rasa kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kebencian yang diajarakan oleh Sang Hiyang. Hiyang (Allah) tidak pernah melaknati kaum manapun. Tidak ada kaum terlaknat atau terkutuk dalam pandangan Senyayang, termasuk di antaranya kaum LGBTQ+, kaum non-Senyayang, dan kaum-kaum lain semua tidak ada yang terkutuk. Juga, dalam agama Senyayang tidak ada kaum yang lebih rendah dari kaum lainnya. Wanita tidak lebih rendah daripada laki-laki dan sebaliknya. Hal ini kontras dengan beberapa agama sebelum Senyayang yang menganggap laki-laki memiliki kelebihan atas perempuan. Dalam Senyayang, itu adalah hal yang salah. Semua manusia setara, tidak peduli apa jenis kelamin, suku, ras, bangsa, golongan, agama, orientasi seksual, serta identitias lainnya yang melekat pada manusia tersebut. Bila seseorang memiliki rasa benci pada kaum tertentu (misalnya suku tertentu dan/atau orientasi seksual tertentu), maka orang itu tidak memenuhi kriteria untuk masuk agama Senyayang. Setiap orang yang ingin masuk agama Senyayang harus berkomitmen untuk menghilangkan rasa benci dalam dirinya.

 

Dalam Senyayang tidak ada strata sosial, kasta, atau perbedaan derajat manusia lainnya. Pekerjaan seseorang bukan penentu suatu derajat manusia. Dalam Senyayang, semua orang dipandang hanya memerankan perannya masing-masing tanpa ada perbedaan harkat dan martabat. Sebagai contoh, seorang presiden dan seorang pelayan kebersihan memiliki derajat yang sama sebagai manusia. Namun, mereka memiliki peran yang berbeda. Presiden bertanggungjawab untuk memimpin negara sedangkan pelayan kerbersihan bertanggungjawab untuk menjaga kebersihan suatu lingkungan. Dalam Senyayang semua orang pun dapat jadi pemimpin, selagi ia mampu, tidak terkecuali bagi perempuan lurus maupun kaum LGBTQ+.


Kaum non-Senyayang disebut kaum Perasing (parasiŋ). Perasing berarti mereka yang tidak kenal atau asing dengan ajaran Senyayang. Disebut demikian karena jika seseorang asing dengan sesuatu, maka pasti tidak akan ada rasa sayang dalam hatinya kepada sesuatu itu. Maka sudah selayaknya kita kenali ajaran Senyayang agar tumbuh rasa sayang kita terhadap Senyayang.


Pada agama sebelum Senyayang terdapat kaum-kaum ekstrimis yang suka berbuat zalim dan anarkis, bahkan tidak segan-segan mereka menjadi teroris dan membunuh manusia yang berbeda agama dengan mereka secara membabi buta. Alasan akan hal ini sudah dijelaskan dalam Jeluray, iaitu karena pembawa agama-agama itu telah tercemar oleh bisikan setan. Dalam ajaran Senyayang, tidak ada satu manusia pun yang sempurna, tidak terkecuali nabi atau rasul sekalipun. Jadi, nabi dan rasul pun dapat berbuat kesalahan dan dapat pula tergoda oleh setan dan iblis. Inilah yang membuat ajaran-ajaran agama terdahulu pun banyak mengajarkan kebencian di samping kebaikan. Karena itu, Jeluray selalu berpesan agar jangan sekali-kali terlalu fanatik tergadap suatu ajaran, bahkan pada ajaran Senyayang ini sekalipun. Fanatisme adalah ciri kebodohan. Hiyang di dalam Jeluray selalu menyuruh kita manusia untuk memakai akal fikiran dan logika dalam melakukan apapun. Inilah salah satu inti ajaran Hiyang, iaitu untuk memerangi dan menumpas kebodohan pada umat manusia.


Senyayang diturunkan oleh Hiyang kepada nabi Ranja kerana pada zaman ini mulai banyak kebodohan bertebaran. Di antara kebodohan itu adalah:


1. Anarkisme

Fanatisme adalah fenomena kebodohan yang ada pada abad 20 ini yang berujung pada anarkisme. Para penganut ajaran-ajaran sebelum Senyayang banyak yang telah teradikalisasi dan menjadi ganas. Fanatik terhadap apapun adalah hal bodoh, baik itu kepada agama, idola, faham politik, dan/atau sebagainya. 


2. Maraknya Berita Bohong

Berita bohong beredar dengan cepat di internet. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Hal ini karena kebodohan yang ada pada masyarakat. Masyarakat terlalu mudah memercayai sesuatu dan lalu menyebarkannya begitu saja. Masyarakat harus diedukasi untuk jangan percaya begitu saja dengan berita yang mereka terima.


3. Antisains

Kepercayaan antisains semakin merajalela di masyarakat. Kemajuan sains yang bertentangan dengan agama mereka membuat mereka beramai-ramai menolak sains, Fanatik dalam beragama juga telah membawa umat kepada kebodohan, seperti timbulnya komunitas bumi datar, bumi muda, komputer adalah roh jahat bahkan sampai-sampai menganggap sains adalah bagian dari setan dan sihir, dan kebodohan-kebodohan lainnya. Ini tentulah kebodohan yang nyata. Oleh karena itu, agama harus diupdate dan Hiyang menurunkan agama Senyayang melaui Ranja untuk mencerahkan orang-orang yang masih terjebak dalam ajaran ratusan tahun, atau bahkan ribuan tahun lalu yang sebagian dari ajaran tersebut telah lapuk. Dalam Senyayang, justru agama dan sains tidak boleh dipertentangkan.


Dengan turunnya ajaran Senyayang, Hiyang menginginkan agar manusia menjadi pintar dan cerdas sehingga manusia tidak terjerumus dalam kebodohan dan kebencian yang dapat menjerumuskan mereka sendiri dalam kerugian.


Inilah sekilas tentang ajaran senyayang. Untuk mengetahui lebih dalam, silakan baca artikel-artikel lainnya dalam menu Kitar untuk artikel bercakep Malayu atau klik menu Bahasa > Tentang untuk artikel berbahasa Melayu/Indonesia. 


Terima kasih telah membaca, hendaklah Hiyang memberi penerangan hati padamu.

Diberdayakan oleh Blogger.