Cara Beribadah dalam Agama Senyayang
Ibadah adalah sesuatu yang selalu ada dalam agama apapun. Dalam senyayang terdapat beberapa jenis ibadah, yaitu:
A. Ibadah Ritual (Sembahyaŋ)
Ibadah ritual atau sembahyang adalah ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mengingatkan diri akan keberadaan Hiyang dan bentuk pengormatan kepada-Nya. Seseorang hendaklah sembahyang tanpa meminta pujian serta tidak ada paksaan dari orang lain. Sembahyang dibagi menjadi dua, yaitu sembahyaŋ sandiem dan sembahyaŋ sampindah yang diuraikan di bawah ini.
1. Sembahyang Stationary (Sembahyaŋ Sandiem)
Sembahyaŋ sandiem adalah ibadah yang dilakukan secara beramai-ramai di rumah Ibadah. Ia termasuk dalam ibadah ritual, artinya ibadah yang dilakukan hanya semata-mata untuk menyembah dan mendekatkan diri kepada Sang Hiyang. Dalam keadaan normal, ibadah ini dilakukan di rumah ibadah (jenayaŋ) yang dibangun sesuai standar komite senyayang. Namun, bila tidak memungkinkan, ibadah dapat dilakukan di manapun. Sembahyang sandiem dilakukan sebagai berikut:
Orang-orang berkumpul di dalam jenayang. Ibadah dimulai dengan kata sambutan dari imam kepala (Partasih Hulu). Kata sambutan berisi ucapan selamat datang dan terima kasih kepada umat yang telah hadir pada saat itu. Kemudian, seorang Petasih lain akan memimpin pembacaan ayat suci (tutur iasih) Jeluray, diutamakan satu surat secara keseluruhan. Tutur iasih yang dibaca tidak boleh lebih dari 21 tutur (ayat). Jika carik (surat) itu terdiri dari kurang 21 tutur, maka boleh disambung dengan carik lain, selagi tidak melebihi 21. Jika suatu carik lebih dari 21 tutur, maka pembacaan harus dihentikan dan selebihnya akan disambung pada bulan berikutnya. Setiap 7 tutur sekali, seorang Petasih lain akan menjelaskan makna dari ketujuh tutur itu dan dilanjutkan dengan membaca tutur selanjutnya. Umat diharuskan untuk senyap dalam sesi ini.
Setelah pembacaan tutur suci, tujuh penari (tanpa memperdulikan gender/jenis kelaminnya) menarikan tarian tradisional dari daerah tempatan dengan diiringi musik tradisional tempatan.
Aktivitas selanjutnya adalah penampilan komedi berdiri (stand-up comedy) dari seorang Petasih. Isi dari komedi berdiri itu berkaitan dengan materi tutur yang telah dibacakan dan menunjukkan betapa benarnya ajaran senyayang dan betapa kasihannya orang yang tidak mau mengikuti ajaran senyayang. Isinya dapat menunjukkan fenomen-fenomena sosial yang terjadi dan sebagainya. Umat bebas untuk tertawa pada tahap ini, melepaskan semua tekanan dalam hidupnya.
Setelah selesai stand-up komedi, umat akan menyayikan lagu religi/rohani yang liriknya boleh dari ayat Jeluray atau pun lirik lain yang diciptakan oleh pengurus Jenayang, selagi berisi hal yang mengajak pada peningkatan keimanan dan kebaikan.
Selanjutnya adalah sesi penampilan bebas. Sesi ini dapat dimanfaatkan oleh umat untuk penampilan kesenian lokal, seperti nyanyian, tarian, dan sebagainya. Saat sesi bebas ini umat sudah bebas untuk tetap tinggal melihat penampilan seni atau pulang.
Di tengah Jenayang, ditaruh sebuah tiang batu yang berasal dari batu vulkanik atau batu meteor yang terdapat simbol Esa Mata. Di bawah batu itu diletakkan berbagai macam makanan dan minuman dan juga hal-hal yang bersifat dekorasi (misalnya janur, bunga, dan lain-lain). Makanan dan dekorasai harus ada, yang dibawa oleh setiap individu. Setelah ibadah selesai, makanan dan minuman ini akan dibagikan pada mereka yang tidak mampu atau dijual ke pasar dan keuntungannya disimpan sebagai kas Jenayang.
2. Sembahyang Portable (Sembahyaŋ Sampindah)
Selain sembahyang bulanan bersama seperti yang diuraikan di atas, Senyayang juga menganjurkan sembahyang pribadi yang bersifat portable. Ia disebut juga dengan sembahyaŋ sampindah atau sembahyang sempindah, ini boleh dilakukan di manapun dan kapanpun sesuai kebutuhan sang individu atau kelompok kecil, misalnya keluarga atau kawan-kawan satu geng. Tidak ada kewajiban lima kali sehari, seminggu sekali, atau sebagainya untuk sembahyang portable ini. Jadi, selain ia portable, ia juga flexible. Sembahyaŋ sampindah dapat dilakukan bila seseorang merasa ingin mendekatkan dirinya kembali pada sang Hiyang. Walaupun tidak ada kewajiban untuk mengamalkannya, namun sangat disarankan untuk melakukannya secara teratur demi mencapai keimanan dan ketenangan hati yang lebih baik. Sembahyaŋ sampindah dilakukan sebagai berikut:
Diri
Diri harus bersih dan terbebas dari najis. Bila memungkinkan mandi lebih dulu diutamakan. Namun jika tidak dapat, setidaknya mengambil air sembahyang. Bila tidak ada air, boleh membersihkan diri tanpa air (misalnya handsanitizer, menyapu dengan tisu, lap tangan, atau sebagainya). Bila tidak dapat membersihkan diri, boleh dengan diri apa adanya selagi pelaku ibadah merasa nyaman.
Pakaian
Tempat
Tempat hendaklah bersih dan bebas dari najis. Pelaksanaan ibadah boleh dilakukan di manapun selagi pelaku ibadah merasa nyaman. Dianjurkan memakai tikar sembahyang sebagai alas sembahyang mengingat pada sembahyang sempindah ini melibatkan gerakan fisik yang berkontak dengan lantai.
Tatar Cara Sembahyang Sempindah
“Aku bariŋin maɲembahyaŋ amin raya lantar aku dah bahagian ɲa.”
Artinya
Aku berniat beribadah pada Hiyang alam semesta karena akulah bagian darinya.
⦿ Lalu mengambil sikap tangan sembah
Sikap tangan sembah dilakukan dengan cara menempelkan kedua telapak tangan. Masih dalam keadaan kedua tapak tangan menempel, ibu jari agak ditarik ke belakang sehingga merenggang dari jari yang lainnya. Tangan yang telapaknya saling menempel lalu diangkat hingga ibu jari selevel dengan dahi.
Pengangkatan tangan ini diringi dengan mengucap “Hiyaŋ Raya!”. Sambil menahan posisi tangan, lalu membaca:
Emaŋ Julaŋ Diri
“Bardiri dah aku ari ni, maŋaŋkat diri maŋhadep saŋ pamberi, barsua paras salaras deŋan saŋ uras, tegak maɲjulaŋ ka tempat ku pulaŋ. Suŋguh hidup dan mati ku hendak dah baradan Hiyaŋ, iaŋ paŋhasih iaŋ paɲayaŋ.
Artinya
Berdirilah aku hari ini, mengangkat diri menghadap pada sang pemberi, bertatap muka selaras dengan sang sempurna, tegak menjulang pada tempatku pulang. Sungguh hidup dan matiku semoga dengan nama Hiyang, yang pengasih yang penyayang.
Dilanjutkan dengan mengepalkan tangan ke dada dan membaca carik aku tahu:
Aku Tahu
(1) Hiyaŋ, iaŋ paŋkal, dan iaŋ hujuŋ, iaŋ dateŋ dan iaŋ lalu. (2) Aku kenali ku dah dan balik ka sabener ku. (3) Aku elah tahu dari mana aku barhulu. (4) Pula aku tahu ka mana aku barhala. (5) Elah ‘ku geɲari kahasih sayaŋ ɲa. (6) Sisihken dah aku mai kalaŋan lupa. (7) Lantar aku elah di jalan iaŋ nala. (ani)
Artinya
(1) Hiyang, yang awal dan yang akhir, yang datang dan yang berlalu. (2) Aku kenali diriku dan kembali ke sesungguhnya diriku. (3) Aku telah tahu dari mana aku berasal. (4) Pula aku tahu ke mana tempatku berarah. (5) Telah aku rasakan kasih sayang-Nya. (6) Keluarkanlah daku dari kalangan lupa. (7) Karena aku telah berada di jalan yang berpikir. (amin)
Lalu dilanjutkan dengan membaca carik pendek Jeluray, atau boleh mengambil 5-9 tutur dari carik panjang Jeluray. Disarankan memilih tutur yang sesuai dengan suasana hati pelaku ibadah dan apa keluaran yang ingin didapatkan setelah selesai ibadah, misalnya ingin lebih mendapat ketenangan, ingin mendapat kekuatan dalam mengambil keputusan, ingin beranjak dari putus hubungan asmara, dan sebagainya.
⦿ Kemudian berlutut dengan tangan tetap mengepal ke dada sambil membaca:
Emaŋ Peluk Serah
“Wahay Hiyaŋ, iaŋ esa, iaŋ riuh. Eŋkau dah, kamu dah atasan ku iaŋ tiŋgi dan aku dah turunan iu, turunan mu. Ampuni aku, baulihken aku sajenak maɲatu miu, sabelum aku maɲatu sal'lama nia.”
Hiyaŋ, eŋkau dekep diaku, dekep hati ku. Tarima kahasih elah mamberi ku hidup, uŋap, aŋgaran, dan paŋgeɲaran ni. Aku tahu matan eŋkau tiŋgalken ku. Dan aku pun tak ‘ken dapat tiŋgalken kau. Ari ni aku hadepken diri ku dah miu, sembahyaŋ dalem amiri iu. Eŋkau dah paŋkal ku dan Eŋkau dah hujuŋ ku.
Artinya
Wahai Hiyang, yang esa, yang jamak. Engkaulah, kamulah atasanku yang tinggi dan akulah keturunan mu, keturunan kalian. Ampuni daku, izinkan aku sejenak menyatu padamu, sebelum aku menyatu untuk selama-lamanya.
Hiyang, engkau dekap daku, dekap hatiku. Terima kasih telah berikan daku hidup, napas, pikiran, dan perasaan ini. Aku tahu tidak mungkin engkau tinggalkan daku. Dan aku pun tak akan bisa tinggalkan dikau. Hari ini aku hadapkan diriku padamu, (dengan) sembahyang di dalam alam semestamu. Engkaulah awalku dan engkaulah akhirku.
⦿ Lalu duduk bersimpuh, tangan tidak mengepal lagi (tangan pada posisi santai) sambil membaca:
Emaŋ Simpuh Jernih
“Hiyaŋ ku, tarima dah simpuh ku pada mu pada iu. Suŋguh elah aku tarima raɲja a Raɲja. Pada ɲa eŋkau siŋkap ajaran kahasih. Aku tarima kahasih tu sahiŋga jauh dah aku mai paraŋay licih, jernih dah hati ku saau iasih.”
Artinya
Hiyangku, terimalah simpuhku pada kalian padamu. Sungguh telah aku terima pertanda dari Ranja. Padanya engkau wahyukan ajaran kasih. Aku terima kasih itu sehingga jauhlah aku dari sifat tercela, jernihlah hatiku sehingga ia suci.
⦿ Lalu mengambil sikap tangan sembah, dan meninggikan kedua tangan sembah ke atas sehingga ibu jari sama tinggi dengan dahi sambil membaca:
Emaŋ Kenal Kerada
“Amin raya, sadatar siari, kamu paŋkal ku, hujuŋ ku, au dah Hiyaŋ ku. Elah aku kenali diri ku dah dan kau. Maka tenaŋ dah hati ku usay. Tarima kahasih miu iaŋ elah maŋutus Raɲja. Lantar ɲa, kami eɲami sedep barsayaŋ. Maka parsayaŋ dah aku, buaŋ beɲci saada."
Artinya
Semesta alam, universe, kalian asalku, akhirku, yang adalah Hiyangku. Telah aku kenali diriku sendiri dan dikau. Maka tenanglah hatiku sudah. Terima kasih pada engkau yang telah utus Ranja. Karena dia, kami merasakan nikmat berkasih sayang. Maka jadilah aku pesayang, buang semua kebencian.
⦿ Lalu bersungkum (sujud) sambil membaca:
Emaŋ Suŋkum Sembahyaŋ
“Hiyaŋ dah saada, barsahupan suŋkum aku mia. Pinter dah aku, buaŋ buŋul saada." 3x
Artinya
"Hiyang adalah semuanya, bersopan sujud aku padanya. Pintarlah aku, buang semua kebodohan 3x"
⦿ Duduk bersimpuh dengan sikap tangan sembah kembali sambil membaca emaŋ kenal kerada
⦿ Lalu bersungkum kembali sambil membaca emaŋ suŋkum sembahyaŋ
⦿ Lalu kembali berdiri sambil mengucap "sanjuŋ aɲjuŋ saŋ Hiyaŋ teraŋ!". Setelah sempurna berdiri kemudian bersikap tangan sembah sambil membaca emaŋ julaŋ diri dan carik aku tahu tanpa carik pendek lanjutan
⦿ Lalu berlutut sambil membaca emaŋ peluk serah
⦿ Lalu bersimpuh sambil membaca emaŋ simpuh jernih
⦿ Meninggikan tangan tapa sambil membaca emaŋ kenal kerada
⦿ Bersungkum sambil membaca emaŋ suŋkum sembahyaŋ
⦿ Lalu kembali duduk bersimpuh yang merupakan simpuh ujung
Aktivitas ritual diakhiri dengan membaca emang penegep (opsioanl) dan emaŋ paɲimpul (wajib) saat simpuh terakhir.
Emaŋ Panegep
Hiyaŋ, iaŋ ada, dan iaŋ tahya, iaŋ tuŋgal dan iaŋ ida, suŋguh aku tahu emaŋ ku taʔ 'ken s'sia. Samakin ‘ku tenti, samakin ia ɲata. Lantar ia aken tarsilan ka tunay. Tegepken dah hati ku uh Hiyaŋ hay. Geŋgem hati ku hiŋga amin ni salesay.
Emaŋ Paɲimpul
"Sambut aku sama siari saada! Untuŋ dah ada Hiyaŋ empu amin raya. Hiyang dah hala."
Artinya
Keselamatan bagiku dan seluruh alam. Bersyukur atas adanya Hiyang pemilik semesta raya. Hiyanglah tempat berarah.
Lalu tangan kepal berganti posisi menjadi diraupkan ke muka.
Lalu Aktivitas tambahan
Aktivitas tambahan dianjurkan untuk menyambung sembahyang samindah. Ia dilanjutkan dengan momen merenung sejenak (tidak membaca apa-apa). Lalu mengambil sikap duduk bersila menenangkan diri, menejamkan mata dan bermeditasi (mengosongkan atau memfokuskan pikiran pada satu hal). Jika memilih memfokuskan pikiran pada satu hal, fokuskan diri pada sang Hiyaŋ, ia yang satu dan yang banyak. Bayangkan ada satu titik yang mewakili seluruh alam semesta. Seperti itulah cara kita membayangkan sifat dan wujud Hiyang.
Catatan:
Ketika melakukan sembahyaŋ samindah, pandangan mata ditundukkan ke bawah sekira 45 derajat dari posisi kaki.
Tidak dianjurkan menutup mata, namun bila itu lebih membuat nyaman pelaku ibadah, silakan dilakukan.
Bacaan sembahyang boleh dibaca dalam hati atau berbunyi pelan (berbisik-bisik) sambil menggerakkan bibir sedikit. Bacaan tidak boleh keras, apalagi sampai mengganggu orang lain, kecuali dalam keadaan tertentu, misal praktek sembahyang di sekolah. Namun, pada kenyataan nyata bacaan harus pelan.
Pikiran hendaklah fokus dan meresapi setiap perkataan dalam bacaan, seakan benar-benar dalam keadaan berserah diri kembali ke alam, kepada Hiyang.
3. Sembahyang Curhati
Sembahyang curhati adalah sembahyang yang khusus dilakukan untuk curhat tentang segala perbuatan lacur (dosa). Sembahyang curhati juga dilakukan untuk meminta maaf kepada Hyang karena sudah lama melupakannya. Selain itu, sembayang curhati dapat dijadikan momen untuk mencurahkan hati kepada Hyang mengenai apapun, mengadu kepada Hyang, atau pun meminta pencerahan pada Hyang.
Sembahyang curhati dilakukan di Balayning. Balayning adalah ruangan/bangunan khusus di dalam kompleks Jenayang untuk keperluan sembahyang curhati ini.
Dalam sembahyang curhati, pelaku ibadah harus menutupi tubuhnya dengan satu kain hitam tipis yang menutupi seluruh bagian tubuh (terserungkup/berkumbus). Ibadah dilakukan dengan cara duduk bersimpuh atau bersila sesuai kenyamanan, namun tidak boleh jongkok/tercangkung. Keadaan tangan boleh santai, mengepal ke dada, sikap sembah di depan dada, atau menadahkan tangan di depan dada. Peibadah tidak boleh mengangkat tangan setinggi leher atau lebih tinggi dari itu.
Dalam keadaan terkumbus dan sikap yang telah dijelaskan di atas, peibadah boleh membaca atau mengatakan apapun di dalam doanya atau curhatannya kepada Hyang.
Sembahyang curhati dapat dilakukan kapanpun selagi si peibadah merasa perlu untuk curhat ke Hyang.
B. Ibadah Selfcare (Sembahri)
Merawat diri sendiri adalah salah satu bentuk ibadah dalam senyayang. Hiraw diri biasanya dalam bentuk menjaga kesehatan fisik dan mental (tidur teratur, makan teratur, dan sebagainya), menjaga penampilan (memakai skincare, bergym, dan sebagainya), serta menjaga keamanan diri (belajar bela diri, membangun hubungan baik antar sesama manusia, dan sebagainya).
C. Ibadah Lingkungan (Sembahtar)
Jika tujuan utama sembahyang adalah menyanjung dan mengagungkan Hiyang secara simbolis, serta manfaatnya hanya dirasakan oleh pribadi pelaku ibadah secara rohani, maka ibadah aksi justru lebih memberikan manfaat secara nyata kepada alam dan masyarakat. Ibadah aksi dibagi menjadi dua, yakni pada alam dan pada masyarakat.
1. Ibadah pada alam (Juyari)
Juyari adalah semua bentuk tindakan yang bermanfaat dalam pelestarian alam, di antaranya memungut sampah, mengurangi emisi karbon, tidak memburu binatang secara berlebihan, dan sebagainya. Meski manusia adalah bagian dari alam, namun dalam senyayang, berjuyari berarti meminimalisir dampak aktivitas manusia terhadap alam yang dapat merusak penampakan alam atau juga yang dapat berbahaya bagi kelangsungan bentuk kehidupan yang lain.
2. Ibadah pada masyarakat (Juyaŋer)
Juyaŋer adalah semua tindakan untuk memberi manfaat pada masyarakat. Dalam senyayang, bermanfaat pada masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu yang diberikan secara tulus (ikhlas) dan secara saŋempu (profesional). Jayuŋer tulus adalah amal-amal baik yang dilakukan untuk masyarakat tanpa adanya imbalan uang sama sekali. Contoh jayuŋer tulus di antaranya menyumbang uang untuk yang membutuhkan, membagikan makan gratis, menjadi relawan untuk kegiatan sosial, dan sebagainya. Sementara itu, jayuŋer saŋempu adalah amal yang memberi manfaat pada masyarakat yang disertai imbalan uang yang menguntungkan. Contoh jayuŋer saŋempu adalah memiliki pekerjaan, seperti menjadi polisi, pedagang, guru, karyawan, dan profesi lainnya yang memberi manfaat pada masyarakat. Jadi, dalam senyayang memiliki pekerjaan adalah salah satu bentuk ibadah yang hendaknya dipenuhi.
Itulah ibadah-ibadah yang dapat dilakukan dalam agama Sanyayang. Semoga kita para Parsayang dapar menjalankan ibadah-ibadah ini sehingga menambah keimanan kita terhadap Hyang Raya.
Terima kasih telah membaca, hendaklah engkau sehat selalu.
