Cara Masuk Senyayang
⌈ Cakep ⌋ ⌈ English ⌋
Bagi seseorang yang sebelumnya tidak memeluk agama Senyayang, orang tersebut harus beralih ke agama Senyayang saat telah dewasa (di atas 18 tahun). Jika seorang anak di bawah 18 tahun tertarik dengan ajaran senyayang dan ingin masuk Senyayang, anak itu hanya akan dikenalkan dan diajarkan dengan ajaran Senyayang. Ia harus menunggu hingga usia 18 tahun untuk masuk ajaran Senyayang secara resmi. Sebelum masuk agama Senyayang, akan dilakukan asesmen terhadap orang tersebut. Petasih (pemuka agama Senyayang) akan bertemu dengan si calon Pesayang untuk menanyai beberapa pertanyaan agar Petasih tersebut yakin bahwa si calon pesayang benar-benar ingin masuk Senyayang berdasarkan keinginan hati tanpa paksaan dari pihak manapun.
Cara untuk pindah ke agama Sanyayang secara resmi adalah dengan mengucapkan tiga tutur penerimaan kasih. Setelah parsarus (sebutan untuk orang yang baru masuk Sanyayang) mengucapkan ketiga tutur tersebut, pengubah kemudian melanjutkan dengan mengucapkan ketiga tutur pembebasan kasih.
Pertama, pengubah agama mengucapkan tutur pembukaan:
Lem Hiyaŋ, adan saŋ paŋhasih saŋ paɲayaŋ
Di dalam Hyang, nama sang pengasih sang penyayang.
Kemudian pemasuk agama mengucapkan tiga tutur penerimaan cinta:
Aku kenali ku iaŋ nihasih sayaŋ.
Paŋkal dan hujuŋ ku dah Hiyaŋ.
Aku tarima raɲja a Raɲja, parayang sayaŋ
Aku kenali diriku sendiri yang dikasihi dan disayangi
Awal dan akhirku adalah Hyang (Allah/Dewa/Leluhur)
Aku terima tanda dari Ranja, nabi tersayang.
Setelah itu, pengubah agama mengucapkan tiga tutur pembebasan cinta:
Sambut mari parsayang sadara
Parsayaŋ dah eŋkau, buaŋ beɲci saada.
Pinter dah eŋkau, buaŋ buŋul saada.
Selamat datang saudara parsayang
Jadi orang yang bersayanglah engkau, buang semua kebencian.
Pintarlah engkau, buang semua kebodohan.
Ketujuh ucapan tersebut mengandung makna yang dalam. Dengan mengucapkan tutur pembukaan, pengubah agama memulai segala sesuatu dalam konteks Hyang (Allah/Tuhan/Leluhur). Kemudian, pemasuk agama membacakan tiga ucapan penerimaan kasih untuk menyatakan ia mengakui dia kembali ke dirinya yang sebenarnya. Sementara itu, ketika pengubah agama mengucapkan tiga tutur pembebasan kasih, pengubah agama mengatakan apa yang akan diperoleh si pemasuk agama dengan masuk ke Sanyayang.
Tiga tutur penerimaan kasih
Kalimat "Aku kenali ku iaŋ nihasih sayaŋ." adalah pengakuan seseorang bahwa ia telah mengenal dan kembali ke jati dirinya sebagai manusia, yaitu menjadi Sanyayang (orang yang berpegang pada kasih sayang). Orang tersebut juga menyatakan bahwa ia menerima untuk dicintai oleh Hyang (Leluhur, representasi dari semua materi dan energi masa lalu, sekarang dan masa depan yang membuatnya ada saat ini), yang merupakan pencipta sejati dan juga oleh nabi Ranja, serta oleh manusia lainnya. Hyang bukan rekaan karena Ia benar-benar ada, orang tua kita misalnya, bagian dari Hyang juga. Tutur ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut telah mengenal dirinya sendiri melalui ilmu-ilmu alam dan/atau sosial (sains). Ia tahu dari mana ia berasal.
Kalimat "Paŋkal dan hujuŋ ku dah Hiyaŋ." menunjukkan bahwa setelah seseorang kembali dan mengenal dirinya sendiri, maka ia sampai pada kesimpulan esensial bahwa dari Hyanglah ia berasal (paŋkal) dan dari Hyanglah ia juga berakhir (hujuŋ). Ia memahami bahwa Hyang adalah representasi dari alam semesta itu sendiri dan juga segala sesuatu yang mungkin telah ada sebelum alam semesta ada, di luar alam semesta yang kita kenal, atau ada setelah alam semesta hancur. Ia sadar bahwa ia adalah bagian dari alam semesta, yang berarti ia adalah bagian dari Yang Esa, asal mula semua makhluk dan akhir dari semua makhluk.
Tutur “Aku tarima raɲja a Raɲja, parayang sayaŋ.” menunjukkan bahwa seseorang telah menerima pertanda, wahyu, dan ajaran yang dibawa oleh nabi (parayaŋ) Ranja. Ia mengenal Sang Hyang melalui wahyu yang diturunkan kepada nabi Ranja dan menerima/meyakini bahwa inilah cara yang benar untuk memahami Sang Hyang, termasuk memahami apa yang diinginkan/diharapkan Sang Hyang dari umat manusia yang tertulis dalam Jeluray.
Tiga tutur pembebasan kasih
Tutur “Sambut mari parsayang sadara.” berarti pengubah agama menyambut pemasuk agama sebagai Parsayang baru, dan menyambutnya sebagai sadara (keturunan dari gadis yang sama, secara harfiah: satu dara).
Tutur "Parsayaŋ dah eŋkau, buaŋ beɲci saada.." berarti pengubah agama mengatakan pada pemasuk agama bahwa ia sekarang telah menjadi Parsayaŋ, iaitu nama orang yang menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai pedoman hidupnya. Pengubah agama kemudian memberitahu pemasuk agama bahwa ia sekarang harus membuang segala bentuk kebencian karena ia sudah menerima ajaran kasih.
Tutur "Pinter dah eŋkau, buaŋ buŋul saada." berarti setelah menerima ajaran kasih Nabi Ranja, pemasuk agama itu menjadi cerdas dan membuang semua kebodohan yang dimilikinya sebelumnya. Artinya, setelah memeluk kasih dan sayang, ia didorong untuk selalu belajar untuk mendidik dan mengajari dirinya sendiri. Menjadi cerdas juga termasuk dalam menganut ajaran Sanyayang itu sendiri, artinya dalam ajaran Sanyayang, pemeluknya diperbolehkan mempertanyakan segala sesuatu. Tidak ada pertanyaan terlarang dalam ajaran Sanyayang untuk menemukan jalan kebenaran dan menghilangkan kebodohan diri sendiri.
Ketika seseorang telah mengucapkan tiga ucapan panarimaan setelah pengubah agama mengucapkan tutur pembukaan, kemudian dijawap dengan tiga ucapan pembebasan kasih oleh pengubah agama, maka ia telah berkomitmen untuk membebaskan diri dari kebodohan dan kebencian yang merupakan sumber segala kejahatan.
Pemasuk agama kemudian akan diberi wadah berisi air bunga untuk membasuh mukanya dan diberi segelas air putih untuk diminum. Setelah itu, pemindahan agama selesai. Pemasuk agama (orang yang baru memeluk agama Sanyayang) disebut Parsarus (secara harfiah berarti seseorang yang beraliran sama).
